Sesaji Pengantin Krangkeng Jalan Lawu Madiun
Di wilayah perbatasan Madiun, tepatnya di Jalan Lawu yang menghubungkan area Kanigoro menuju Kecamatan Wungu/Dungus, terdapat mitos yang paling kuat mengakar di masyarakat sekitar, mitos sesaji pengantin Krangkeng. Konon, jalan itu dibangun di atas jalur pemakaman kuno, dan setiap tahun selalu “meminta tumbal” biasanya berupa pengantin baru atau pasangan yang sedang mendekati hari pernikahan. Orang tua sudah lama berpesan “Kalau lewat Jalan Lawu, jangan berdua, jangan berhenti, dan jangan menoleh kalau dipanggil.”
Pada suatu sore menjelang malam, aku dan tunanganku, Dina, pulang dari kota Madiun setelah mengurus surat-surat pernikahan. Hanya tinggal dua minggu lagi menuju hari bahagia kami. Karena sudah larut malam, kami memutuskan mengambil jalan pintas lewat Jalan Lawu, jalan yang lebih pendek menuju rumah orang tuanya di Wungu.
Saat itu, Dina menatap ke luar jendela dan bergumam “Jalan ini sepi sekali ya.” Sawah di kedua sisi tampak tak berujung, kabut tipis mulai turun meski belum masuk malam. Angin menderu kencang melewati pepohonan di pinggir jalan. Meski begitu, aku tersenyum menenangkan “Lebih cepat sampai. Tidak ada yang perlu ditakuti.”
Tiba-tiba, lampu mobil berkedip-kedip. Mesin tersendat. Di tengah jalan yang lurus panjang itu, aku melihat sesosok wanita berdiri di tepi jalan. Berpakaian kebaya putih lengkap dengan kerudung pengantin, rambut panjang terurai, diam mematung menghadap ke arah kami. Wajahnya pucat sekali, bahkan dari jarak jauh terlihat seperti tak bernyawa.

Lalu aku menoleh ke Dina “Din… lihat itu.” Dina menatap kaku “Dia… dia sendirian? Di tengah malam begini?” Semakin dekat, wanita itu perlahan mengangkat tangan kanannya memberi isyarat berhenti. Matanya kosong, tak bergerak, tapi senyumnya terlihat melengkung aneh, bukan senyum ramah, melainkan senyum yang menahan lapar.
Antrean Pengantin yang Tak Terlihat Kaki
Seketika, aku menginjak gas sekuat tenaga. Mobil melesat melewatinya. Saat melintas, aku menoleh sekilas — dan jantungku hampir berhenti. Wanita itu tidak memiliki kaki. Dia berdiri di atas kabut yang melayang setinggi betis. Di belakangnya, berjejer puluhan sosok lain — semuanya berpakaian pengantin, pria dan wanita, berdiri diam menatap ke arah kami yang melintas.
Sesampainya di rumah, Dina diam saja sepanjang malam. Wajahnya pucat pasi. “Mereka menatapku… seolah mengenaliku,” gumamnya pelan. Malam itu, aku bermimpi buruk. Aku melihat Dina berdiri di tengah Jalan Lawu, mengenakan gaun pengantin putih yang lusuh, bergandengan tangan dengan sosok pria tak berwajah. Sementara itu, di sekeliling mereka, puluhan pasangan pengantin menari melingkar tanpa suara.
Keesokan harinya, aku pergi ke desa Kanigoro untuk mencari tahu asal-usul mitos itu. Awalnya, warga desa enggan berbicara. Hingga akhirnya, seorang kakek tua yang tinggal di pinggir jalan itu bercerita dengan suara berat.
“Jalan Lawu itu bukan jalan biasa. Dulu puluhan tahun lalu, di tanah Krangkeng itu ada desa kecil yang seluruh penduduknya meninggal karena wabah misterius dalam satu malam. Yang paling banyak meninggal adalah pasangan yang baru saja menikah — dikatakan roh-roh itu membutuhkan pasangan untuk menemaninya di alam sana.”
Kemudian, kakek itu menatapku tajam: “Sejak itu, setiap tahun selalu ada pasangan pengantin atau calon pengantin yang hilang di jalan itu. Mobil ditemukan terparkir di pinggir jalan, pintu terbuka, tapi penumpangnya tak pernah ditemukan. Mereka bilang roh-roh pengantin yang mati itu mencari pengganti… supaya mereka tidak kesepian di sana.”
Lalu ia menambahkan sambil menunduk: “Dan yang paling berbahaya adalah saat hari Jumat Kliwon. Itu hari pernikahan mereka di alam sana. Kalau ada pasangan melintas di malam itu… mereka tidak akan dilepaskan.”
Mendengar itu, darahku membeku. Ternyata, kemarin malam tepat jatuh pada Jumat Kliwon. Tanpa menunda, aku berlari pulang menemui Dina.
Sesampainya di sana, aku melihat Dina sedang duduk di depan cermin, mengenakan gaun pengantin yang baru saja dikirim. Namun saat dia menoleh ke arahku, wajahnya berubah — pucat, matanya sayu, dan senyumnya melengkung persis seperti wanita yang kulihat di pinggir jalan kemarin malam.
Dengan suara yang bukan suaranya, Dina berbisik: “Mereka sudah menunggu kita… sudah waktunya kita pergi ke sana.”
Sejak hari itu, Dina berubah drastis. Sering kali, ia melamun berjam-jam, berbicara sendiri di tengah malam, dan selalu memandang ke arah jendela yang menghadap ke arah Jalan Lawu. Kadang dia tertawa kecil sendirian, kadang menangis tanpa sebab.
Suatu malam, tepat seminggu sebelum hari pernikahan kami, Dina bangun tidur dan berjalan keluar rumah dalam keadaan setengah sadar. Segera, aku mengejarnya. Dia berjalan kencang menuju arah Jalan Lawu, tanpa alas kaki, mengenakan gaun pengantin putih. Aku berteriak: “Dina! Berhenti! Mau ke mana kamu?”
Dina berhenti di tepi jalan, menatap ke arah kabut yang semakin tebal. “Mereka sudah datang menjemputku,” katanya tenang. “Aku sudah berjanji. Aku tidak boleh ingkar.”
Tak lama berselang, dari balik kabut, terdengar suara musik gamelan yang sayup-sayup, terdengar seperti iringan pernikahan kuno. Semakin lama, suara itu semakin jelas, semakin dekat. Lalu dari kabut itu, berjalan keluar puluhan pasangan pengantin, semuanya berjalan beriringan, diam, mata kosong, menatap lurus ke depan.
Di depan barisan itu berjalan wanita berpakaian pengantin yang kulihat minggu lalu. Dia berhenti di depan Dina, mengulurkan tangan. Saat Dina melangkah hendak meraih tangan itu, aku menariknya dengan kuat ke belakang: “Jangan pegang! Itu bukan manusia!”
Seketika, wanita itu menoleh ke arahku. Wajahnya tiba-tiba berubah — membusuk, berlubang, mata keluar dari rongganya. Dia berteriak tanpa suara, dan ratusan pasangan pengantin di belakangnya bergerak serentak menuju kami.
Dengan cepat, aku menggendong Dina yang sudah tak sadarkan diri, berlari sekuat tenaga kembali ke rumah. Aku mengunci pintu dan jendela, membakar kemenyan, dan membaca doa sepanjang malam. Sementara itu, di luar rumah, terdengar suara langkah kaki berputar mengelilingi rumah, disertai suara gamelan yang semakin keras dan tawa yang melengking. Mereka mengetuk pintu dan dinding, memanggil nama Dina berulang-ulang: “Datanglah… sudah waktunya… janji harus ditepati…”
Ketika fajar menyingsing, suara itu perlahan hilang. Namun, Dina terbaring lemah, suhu tubuhnya dingin seperti mayat. Dia membuka mata dan menatapku dengan pandangan yang penuh air mata: “Mereka tidak akan berhenti… sampai aku kembali ke sana.”
Akhirnya, hari pernikahan kami tiba. Semua sudah siap. Tamu mulai berdatangan. Namun, Dina hilang. Kamar pengantin kosong, jendela terbuka lebar, dan di atas tempat tidur tertinggal gaun pengantinnya yang terlipat rapi — kecuali bagian bawahnya basah oleh lumpur tanah merah yang khas tanah Krangkeng.
Karena itu, aku tahu ke mana dia pergi. Segera, aku naik motor meluncur kencang menuju Jalan Lawu. Langit senja mulai gelap, kabut turun sangat tebal hingga jarak pandang hanya beberapa meter. Di tengah jalan, aku melihat mobil pengantin terparkir di pinggir jalan, pintu terbuka, lampu menyala. Itu bukan mobil kami. Tetapi di dalamnya kosong.
Saat aku melanjutkan perjalanan, di kejauhan terlihat pesta pernikahan besar di tengah lapangan kosong. Ratusan orang berpakaian adat kuno duduk melingkar, musik gamelan bergema, dan di tengah berdiri pelaminan berhias bunga melati yang sudah kering dan menghitam.
Di sana, berdiri Dina mengenakan gaun pengantin putih yang kini tampak kusam dan kotor, bergandengan tangan dengan sosok pria tinggi berpakaian pengantin pria — wajahnya tertutup topeng kayu tua. Aku berteriak memanggil namanya. Dina menoleh. Namun matanya sudah kosong, tak mengenali aku lagi. Dia tersenyum senyum yang sama — senyum yang tak pernah benar-benar bahagia.
Lalu, sosok pria itu menoleh ke arahku, dan mengangkat tangan. Seketika, ratusan tamu pesta itu berdiri serentak dan berjalan menuju aku. Wajah mereka semua sama — pucat, berlubang, mata kosong. Pelan-pelan, aku mundur, tak berani berbalik badan. Sementara itu, aku melihat Dina kembali menghadap ke depan, dan bersama suaminya itu mereka berjalan masuk ke dalam kabut perlahan-lahan.
Sejak saat itu, aku tidak pernah menemukan Dina. Pencarian berbulan-bulan tak membuahkan hasil. Mobil pengantinnya ditemukan terparkir di tempat yang sama, tapi dia tidak pernah kembali.
Hingga kini, setiap kali aku melewati Jalan Lawu, terutama di malam Jumat Kliwon, aku selalu melihat sepasang pengantin berdiri di pinggir jalan. Wanita itu selalu menatap ke arahku seolah mengenali seseorang yang hilang. Dan di belakang mereka, antrean pasangan pengantin semakin panjang, semakin banyak — menunggu giliran untuk dijemput, menunggu giliran untuk tak pernah pulang.
Oleh karena itu, jangan pernah melintas Jalan Lawu berdua di malam hari. Karena roh-roh pengantin Krangkeng selalu mencari pasangan baru. Dan sekali kau diundang… kau tidak akan pernah pulang.
-Tamat-
Konon katanya pesta pernikahan di Jalan Lawu tidak pernah berakhir…
Baca Juga : Pesugihan Di Kosan Mojokerto




