Cerpen

Hanya Sebuah Puisi

86
×

Hanya Sebuah Puisi

Sebarkan artikel ini
puisi

Pena yang Tak Boleh Diam

Kami bukan sekadar menulis berita,
kami merekam jejak zaman
dari lorong-lorong yang sunyi,
dari suara rakyat yang nyaris tenggelam
di antara riuh kekuasaan.

Kami berjalan ketika yang lain berhenti,
bertanya ketika banyak orang memilih diam,
mengejar fakta meski jalan penuh kabut,
sebab satu kalimat yang benar
bisa menjadi cahaya bagi banyak mata.

Wartawan bukan pemilik kebenaran,
tetapi penjaga pintu menuju kebenaran.
Pena kami mungkin kecil,
namun ia mampu mengetuk pintu yang terkunci,
membuka ruang bagi suara yang terpinggirkan.

Kami menulis bukan untuk dipuji,
bukan pula untuk ditakuti.
Kami menulis karena ada fakta
yang harus diketahui,
ada ketidakadilan yang harus disuarakan,
dan ada peristiwa yang tak boleh hilang
ditelan waktu.

Kadang kami dicaci,
kadang dituduh berpihak,
kadang tulisan kami tak disukai.
Namun selama fakta masih berdiri,
selama nurani belum mati,
pena ini akan tetap mencari jalan.

Sebab wartawan sejati
tak sekadar mengejar berita.
Ia menjaga ingatan bangsa,
mencatat hari ini
agar generasi esok tahu
apa yang pernah terjadi.

Dan ketika nama kami dilupakan,
biarlah tulisan yang berbicara.

Karena kami bukan sekadar pemburu kabar

kami adalah saksi zaman,

dan pena kami adalah suara yang tak boleh diam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *