Cerpen

Pesugihan Di Kosan Mojokerto

1
×

Pesugihan Di Kosan Mojokerto

Sebarkan artikel ini

Catatan PKL Yang Tak Pernah Aku Lupa

Ilustrasi

Kosan Yang Berubah Wajah

Musim panas tahun itu, lima dari kami — aku, Ratna, Mila, Dina, dan Sari — dikirim ke sebuah pabrik obat di kawasan perbatasan Mojokerto untuk Praktek Kerja Lapangan selama tiga bulan. Kami sepakat memilih di sebuah rumah besar berbentuk huruf L yang dekat dengan pabrik, milik seorang janda paruh baya yang dipanggil Bu Murti. Bagian depan ruang tamu berjajar tiga kamar, tempat kami tinggal, sedangkan bagian belakang adalah tempat tinggal beliau sendiri. Saat orang tua kami mengantar, Bu Murti tampak sangat ramah: “Makan, minum, pakai dapur — sepuasnya, anggap sendiri rumah.” Begitu orang tua pulang, semuanya berubah. Air minum, penggunaan kompor, bahkan setrika, semua dihitung dan diberi harga. “Tak ada yang gratis di dunia ini,” ucapnya dingin. Dan dari situlah hal-hal aneh mulai bermunculan.

Setiap kali menjelang maghrib, saat orang lain bersiap sholat, Bu Murti justru duduk di teras memainkan congklak sendirian. Rambutnya terurai lepas, wajahnya kaku, dan sesekali tertawa kecil seperti anak kecil yang sedang bermain bersama teman-temannya yang tak terlihat. Tawanya melengking, menggema di kesunyian sore, membuat bulu kuduk merinding.

Sosok Misterius di Gudang Bekas Ruko

Hari-hari berlalu, dan penglihatan aneh mulai datang. Suatu pagi kami pulang lebih awal karena awal datang dipan ku dan teman satu kamarku ini lapuk jadi aku izin ibu kos untuk memasukkan dipan ke gudang bekas ruko di depan yang saat itu jelas kosong. Namun malam itu, lewat celah pintu bawah yang di matikan dengan palang kayu di kamarku, aku melihat tiga sosok bertubuh hitam pekat lewat celah bawah pintu itu, berkepala botak, duduk melingkar di sana seolah sedang menonton televisi dan mengobrol. Tak ada suara, hanya gerak tubuh yang pelan, kaku, dan serempak. Aku mengucek mata, saat aku melihat kembali mereka sudah lenyap, aku tak percaya dengan apa yang ku lihat akhirnya aku menutup celah itu dengan kain penutup meja karena aku juga merasa janggal, jelas gudang bekas ruko itu kosong tapi kenapa ada makhluk aneh itu.

Malam lain, saat aku sedang mengerjakan laporan PKL di kamar, pintu kamar kubuka lebar karena udara sangat gerah. Di bawah kursi ruang tamu terlihat seekor tikus kecil merayap. Aku menatapnya lekat lekat dari tempat dudukku dan darahku seolah membeku. Itu bukan tikus. Itu sebuah tangan. Hanya pergelangan hingga jari-jari saja, bergerak perlahan merayap di lantai. Aku menjerit dalam hati, menutup pintu sekuat tenaga, menguncinya, dan mematikan laptop. Malam itu aku tak berani membuka mata sampai pagi. Aku tak bercerita pada siapa pun, berpikir mungkin aku hanya kelelahan dan berhalusinasi.

Teman Baru yang Tak Bertahan Lama

Memasuki bulan kedua, kami lega karena mendapat teman baru. Dua mahasiswi jurusan Apoteker dari Jakarta datang menempati kamar kosong. Namun mereka selalu pulang larut malam, wajah pucat, dan sering berteriak kecil saat masuk pintu. “Tikusnya besar-besar sekali di sini, geli sekali!” katanya. Mereka tak tahu bahwa hal yang kami lihat jauh lebih mengerikan daripada sekadar tikus. Lama-kelamaan kami sadar : celana dalam kami sering hilang. Milikku kadang kembali tergantung di jemuran namun dengan posisi yang berbeda, tapi ada bekas seperti pernah dibakar tapi tak sampai terbakar hanya meninggalkan jejak berwarna coklat seperti bekas di lewatkan di lilin atau lampu bakar kecil. Kami diam saja, takut menanyakan.

Belum genap dua minggu, kedua mahasiswi itu memutuskan pergi. “Kami tak betah, terlalu banyak hal aneh di sini,” katanya. Bu Murti marah besar, mengancam akan mempersulit pengambilan surat keterangan magang di pabrik jika mereka pergi. Tapi mereka tetap pergi, meninggalkan kami berlima kembali sendirian di kosan itu.

Suatu sore, Ratna mencuci baju paling akhir dan memintaku menemaninya menjemur di halaman depan. Sambil menunggu, aku duduk di tembok pembatas, memandang ke jalan raya yang dipenuhi rimbunan pohon pisang di seberang. Tiba-tiba salah satu pohon pisang itu ambruk ke jalan. Aku menatapnya lekat dan pohon itu perlahan berdiri tegak kembali dengan sendirinya, lalu membungkuk pelan seolah melambai, dan iya aku lama menyadari itu adalah pocong. Keringat dingin langsung membasahi punggungku. Aku menelan ludah, berusaha tenang. “Na… Ratna, sudah selesai? Ayo masuk, sudah gelap,” kataku bergetar. Kami berdua buru-buru masuk, menutup rapat semua jendela dan tirai. Malam itu aku tak berani tidur membelakangi pintu.

Wajah Berubah di Tengah Malam

Malam minggu di bulan ketiga, kami berlima sepakat begadang. Kami duduk berkumpul di depan kamarku, mengawasi jemuran dan sekeliling rumah. Jam sembilan, sepuluh, sebelas — semuanya tenang. Tepat pukul sebelas lewat, sesosok lewat di depan jendela dengan kecepatan luar biasa. Itu Bu Murti. Padahal kami tahu beliau berjalan lambat dan tertatih-tatih. Semua diam dan masuk ke kamar masing-masing.

Tak lama kemudian aku kebelet ke kamar mandi. Tak tega membangunkan teman sekamar, aku memberanikan diri keluar dengan penerangan dari flash HP di tangan. Suasana hening, dingin, sepi. Setelah selesai, saat aku berjalan kembali ke kamar, aku melihat Bu Murti berdiri tepat di ambang pintu sekat antara dapur dan kamar kami. Wajahnya pucat pasi, kerutan tiba-tiba terlihat jauh lebih dalam, rambutnya berantakan mengembang — terlihat sepuluh kali lebih tua dari biasanya. Ia menatapku, lalu tersenyum tipis dan tertawa pelan. “Lampunya jangan lupa dimatikan ya… listrik mahal,” katanya dengan suara berat parau. Lidahku terasa kaku, tak mampu bersuara. Aku hanya mengangguk lemas, mematikan lampu, dan berlari masuk ke kamar, menarik selimut hingga menutupi kepala. Jantungku berdegup kencang seolah mau meledak.

Hari Jumat sore, aku dan Mila duduk di ruang tamu. Aku melihat foto lama di dinding — seorang pria berkulit sawo matang, rambut ikal, mengenakan baju hitam berkerah. “Wah, suami Bu Murti lumayan tampan ya, kok bisa mau sama Bu Murti,” ucapku asal. Belum selesai kalimatku, PLETAKK! Lampu ruang tamu meledak pecah, lalu berkedip-kedip liar seolah marah. Kami berdua terdiam, saling bertatapan dengan mata terbelalak, lalu lari masuk ke kamar. Malam itu kami berkomunikasi lewat pesan WhatsApp saja, tak berani bersuara. Lampu itu terus berkedip sampai kami pulang.

Setiap malam Jumat, Bu Murti pergi bersama anak-anaknya dan kembali hari Minggu. Setiap kali pulang, wajahnya selalu terlihat masam, pucat, dan penuh amarah yang tak terjelaskan. Pekerja pabrik dan penjual nasi goreng di sekitar sana sering berbisik saat kami lewat: “Hati-hati ya nduk… makan yang banyak… pulang jangan malam-malam.” Tak pernah dijelaskan lebih lanjut, tapi nada bicara mereka penuh keprihatinan.

Rahasia yang Tak Pernah Terjawab

Akhirnya tiga bulan berlalu. Kami pulang dengan selamat, meski jiwa kami terasa seperti tersisa separuh. Kami tak pernah tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi di kosan itu. Pesugihan tikus got? Sosok-sosok yang menunggu di gudang? Tangan yang merayap di lantai? Atau pohon pisang yang bergerak sendiri? Mungkin kita tak perlu tahu — yang penting kami selamat.

Kini bertahun-tahun telah berlalu. Kami berlima sudah dewasa, sibuk dengan kehidupan masing-masing, jarang bertemu. Tapi setiap kali musim hujan tiba atau malam semakin larut, bayangan tentang rumah berbentuk L di Mojokerto itu selalu kembali — mengingatkan bahwa di tempat yang tampak biasa saja, bisa tersimpan rahasia gelap yang tak terbayangkan oleh akal sehat manusia.

 

-TAMAT-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *